Blog Saya

20. Okt, 2018

KERJA PARUH WAKTU

 

Fonna Zahra

Aku diajak ke sebuah ruangan seperti sebuah ruang rapat dengan meja sebesar meja makan dan deretan kursi mengelilinginya. Di bagian sudut berdiri sebuah papan tulis dan layar beamer. Aku membaca formulir sejenak.

“Biar aku bantu mengisinya, supaya cepat,” kata Annika. Wanita berkulit putih rambut pirang dikepang satu, kepanganya selalu diletakkan di bagian bahu kanannya, kulihat pada hari-hari berikutnya.

Ia mengisi beberapa bagian dalam formulir dengan cepat, nama, alamat, dll. Karena sebagian dataku sudah pernah ku email, ia hanya menulis ulang dengan melihat kertas lain yang dibawanya.

“Kamu punya anak? Uh…oke it must be not” katanya tanpa beralih matanya dari kertas itu.

“Eh, yes, I have a child!” Sergahku.

“What?” ia menatapku tak percaya, dari ujung kepala sampai ujugn kaki.

“Iya, benar, aku punya anak perempuan, 6 tahun,” lanjutku.

Terdiam lama, ia masih ternganga, oh…oke…sorry, ia sejenak tertawa, mengibaskan tangan. Lalu melanjutkan mengisi form. Hari itu cuma mengisi form dan menjelaskan apa saja yang akan aku kerjakan. Membawaku ke labnya, ke ruang kerjanya, meja yang akan aku pakai, dan ruang makan yang berisi kulkas, microwave, piring-gelas-sendok. Rata-rata mereka membawa bekal makan siang sendiri.

“Apa kamu memerlukan sesuatu nantinya?”

“Iya, aku perlu tempat untuk salat, tidak perlu luas” kataku.

“Kukira, tempat kita mengisi formulir tadi bisa kamu pakai, bagaimana?”

“Boleh” jawabku tegas. Alhamdulillah, mudah ternyata.

Aku diminta kembali sesuai jadwal kuliahku yang off setiap rabu. Jadi aku hanya kerja di hari rabu. Karena aku punya anak, aku harus pulang lebih awal, dan itu tak masalah katanya.

***

Hari rabu pagi aku sudah berada kembali di Wasserwerk Coschütz (Semacam Perusahaan Air Minum Daerah-PDAM) itu, dan rabu-rabu berikutnnya, dengan melewati dua pintu berpassword. Pintu pagar dan pintu masuk ke gedung. Aku mesti menekan tombol-tombol angka sesuai yang dipandu Annika, dan angka-angka itu berbeda dengan angka masuk ke pintu gedung. Gedungnya bertingkat dua. Aku kerja di tingkat dua dalam sebuah ruangan berisi komputer, dan di laboratorium berisi alat-alat yang mesti kusiapkan.

Pada saat luang, aku mencuci alat-alat gelas di lantai bawah, yang telah ditaruh di atas meja yang di bawahnya ada dua mesin cuci, dan di sisi kiri berdiri lemari pengering besar kukira tingginya dua meter, lebarnya 1,2 meter dengan sterilisasi 100 an derajat.

Sambilan menunggu peralatan gelas dicuci oleh mesin, aku mengelap lemari bahan kimia yang berjejer di ruangan ini. Mengaturnya sesuai besar kecilnya botol, menata peralatan gelas. Memindahkan botol-botol yang telah kosong ke sisi lain. Mengatur alat-alat gelas yang masih dalam kardus ke lemari.

Pada saat yang lain aku membuat bahan kimia berwarna biru tua untuk menghilangkan VOC (volatile organic matter) dari alat gelas. Aku memasukkan cairan itu ke flask, lalu menshaker dengan kecepatan dan waktu tertentu, mencucinya dengan milliquwater. Dan mensterilkan di lemari pemanas. Hal ini menghabiskan waktu hampir seharian.

Bekerja di Wasserwerk Coschütz mengajarkanku banyak sekali hal baru. Bangun pagi-pagi, mengantar anak ke sekolah dengan sepeda, lalu menuju halte, merantai sepeda di halte tram. Aku mesti dua kali ganti tram, dan sekali naik bus menuju wasserwerk yang terletak di Prohlis, pinggiran kota Dresden dengan deretan kebun apel dan anggur di sepanjang jalan. Rumah-rumah kayu penduduk berjejer rapi dengan taman kecil di halaman atau semak menjalar ke dinding-dinding rumah, seperti dalam film-film. Turun di halte bus, aku mesti berjalan kaki sekitar 150  meter lalu berbelok 100 m ke sebuah jalan buntu yang ujungnya langsung berhadapan dengan pagar besi Wasserwerk Coschütz berpasword.

Mulai bekerja pada bulan Oktober, sudah menjelang musim dingin. Dan sempat merasakan badai suatu pagi ketika menuju tempat kerja. Aku sudah di halte tram kedua, semua kendaraan verspaetung karena badai. Salju menutupi rel-rel kereta dan jalan, dari langit salju bagai kapas dituang, ringan melayang disertai angin dingin menusuk, menumpuki apa saja yang dijumpainya.

“Kamu gak usah datang hari ini, badai,” kata Annika di telepon. Awalnya kutelpon hendak minta maaf aku terlambat, aku sudah di halte tram kedua tapi semuanya verpatung.

“Nggak apa-apa, aku sudah di tengah jalan kok, tapi tram keduanya delay,” kataku.

“Oke, terserah kamu, tapi jangan paksakan diri, lagi badai ini”

Bukan aku dong kalau menyerah, ini udah separuh jalan. Orang-orang yang sudah menumpuk di halte juga terlihat resah, sebentar-bentar melihat jam. Lebih 15 menit kemudian tram datang, aku sengera naik, dan kehangatan segera terasa begitu pintu tram tertutup. Penumpang banyak berdiri karena kekurangan tempat duduk. Sepatu-sepatu yang berlumuran salju mulai meleleh oleh hangatnya ruang tram. Lantai tram seperti baru tersiram air.

Sekitar 20 menit kemudian aku turun dan menyambung dengan bus ke Wasserwerk Coschütz, turun di halte Johanstadt selama 10 menit. Di sana angin kencang sekali. Aku merapatkan kedua tanganku yang bersarung tangan woll tebal dalam saku jas musim dingin, memasang sarung penutup kepala berbulu dan melangkah lebar ke gedung wasserwerk.

“Next time, in this storm, you don’t need to come,” Annika mengembangkan tangan, begitu kuatir begitu melihatku sampai.

“Its oke.. don’t worry, I am fine” senyumku, aku menyimpan jaket musim dinginkku di sangkutan yang tersedia, lalu mulai menyiapkan bahan seperti biasa, 15 botol kaca bertutup, kuisi dengan sekian volume larutan klorin menggunakan mikropipet, tambah milliquwater, dan plus protein yang kuambil dari lemari khusus di ruangan lain. Selesai. Aku ke toilet sebelum memulai tes organoleptic. Iseng, aku membuka botol lotion yang tersedia di toilet, mengoles lengankku yang kering karena terpaan dinginnya cuaca. Memang pada musim dingin kulit kita menjadi sangat kering sehingga perlu mengulang-ulang memakai lotion, terutama di buku-buku punggung jari tangan dan kaki. Kalau tidak, bisa bersisik, terkelupas, dan berdarah.

Wah, wangi sekali lotionnya. Aku membilas lagi lenganku, tak pede rasanya terlalu wangi, kulap lagi dengan tissue kuat-kuat, tapi aromanya sulit hilang. Ya sudahlah…biar saja.

Berkaitan dengan kerjaan utamaku: sebagai analis organoleptik, aku terpilih dengan alasan utama: aku tidak minum alcohol dan tidak merokok. Awalnya aku tanya pada Annika, dari mana kamu tahu aku tidak minum alkohol dan tidak merokok?

“Kamu muslim, dan berjilbab, setahuku muslim tidak minum dan merokok, dan aku sudah menanyakan padamu waktu wawancara, bukan?”

Kami tertawa bersama.

Hal inilah yang membuat Chamila, teman sekelasku iri, kenapa aku bisa lulus, terpilih bekerja, padahal ia sangat memerlukan pekerjaan ini, karena suaminya tidak ada pekerjaan, di rumah saja, dan kekurangan biaya, apalagi anak pertama mereka akan lahir dalam waktu tak lama lagi.  Ia tidak terima aku lulus bekerja, padahal ia tahu ia jauh lebih pintar dariku.

Dan kerjaanku memang nyium-nyium cairan dalam botol yang telah kusiapkan sesuai panduan Annika. What surprising is, ternyata, dengan reaksi kimia antara protein dennga klorin dalam air, dapat menimbulkan aneka bau. Dan bau itu tidak ditemukan dalam larutan klorin sendiri atau protein sendiri. Dan lebih mengejutkan lagi, Annika sudah meneliti lebih 200 jenis protein yang dicmpur denga air berisi klorin dalam 3 tahun penelitiannya. Sampai-sampai, ia telah mati rasa, reaksi protein-klorin itu tidak lagi memberikan bau apa-apa pada hidungnya. Sementara itu, aku dapat merasakan bau itu dengan jelas, kadang-kadang seperti bau permen, bau bunga, bau busuk, dengan tingkatan yang berbeda-bedar, dan ada pula yang tidak berbau sama sekali.

Aku baru tahu juga kalau ternyata banyak sekali jenis protein di dunia ini. Uhfff. Penelitain yang dibiayai penuh oleh wasserwerk ini, dan juga untukku yang bekerja membantunya.

Eh, soal aku memakai lotion di toilet tadi, masih ada kelanjutannya lho. setelah sejam cairan dalam botol itu didiamkan, tibalah waktunya organoleptic test pakai indera penciuman. Seperti biasa, Annika sudah menyiapkan kertas-kertas yang akan diisinya dengan jenis bau yang akan tercium. Botol pertama, ia membuka dan mengarahkan ke hidungnya beberapa saat, mencatatnya. Lalu menyerahkan padaku, aku mendekatkan ke  hidungku, lalu mengatakan padanya bau apa yang tercium olehku. Wangi. Botol kedua, juga dengan cara yang sama. Wangi juga, botol ke tiga, wangi juga. Annika menatapku heran.

“This is creazy,” katanya, menutup kertas kerjanya. “Kamu pakai parfum?” ia menatapku tajam. Aku sampai gugup.

“Oh eh…nggak….ehmmm oh…tadi aku pakai lotion yang ada di toilet, tapi udah kucuci dan lap tissue tidak bisa hilang baunya.”

“Ohhh noo…” ia meletakkan kertas catatannya. Bangkit dari kursi.

“Kita gak bisa lanjutkan, ingat minggu depan kamu tidak boleh pakai wangi apapun,” ia melangkah ke ruangannya, meninggalkanku sendirian yang masih terngaga. Bodoh sekali aku ini, aku mengutuk diri sendiri yang kegatelan pakai lotion gratis, dasar!

***

Oh ya, di awal aku belum bercerita bagaimana aku mendapatkan kerja ini. Aku senang aja ngecek mading di kampus yang banyak berisi iklan tawaran kerja paruh waktu. Banyak sekali, terutama kerja di restoran sebagai pencuci piring. Beberapa kawan lain ada yang bekerja partime seperti itu dengan bayaran sekitar 6 euro per jam. Hitung-hitung nambah tabungan. Karena kerjanya gampang, meski melelahkan, uangnya banyak kalau dikonversi ke rupiah. Beberapa pekerjaan dibayar rata-rata 6,5 – 8 euro, sekitar 90 – 112 rb/jam, cukup menarik bukan? Biasanya sehari bisa 5-9 jam kerja. Untuk student, ada batasan jam kerja tidak boleh lebih 400 jam per tahun. Tapi jangan salah, ada juga yang malas untuk kerja, mau santai-santai aja kuliahnya.

Aku, awalnya berpikir, agak gila rasanya, dengan ngurus anak, ngantar n jemput sekolah, belum lagi kalau ia sakit, atau hal lain…tapi, tentu saja, pengalaman mahal harganya, belum tentu aku dapat kesempatan lain kali.

Aku melamar lewat email, mengisi form biodata, dsb. Eh, setelah 2 hari aku dipanggil disuruh datang ke alamat lengkap dengan rute tram dan bus yang bisa aku naiki, untuk wawancara. Rupanya bukan aku saja yang dipanggil, ada beberapa yang lain, dan dua orang adalah teman sekelasku di HSE (Hydro Science and Engineering: Bijeen dari Nepal, dan Chamila dari Colombo). Sehari setelah wawancara aku mendapat email aku diterima dan disuruh datang untuk melengkapi data sekaligus orientasi. Nah, itulah yang kutulis di awal tulisan ini.

Aku menandatangani kontrak, dengan gaji 7,7 euro per jam, kepalaku langsung menyalakan kalkulator, waw 107,8 ribu perjam, gila. Aku mengurus beberapa berkas di kantor imigrasi, dan kantor pajak kota.

Rabu-rahu berikutnya, aku datang dengan semangat. Annika adalah bos yang beken, wanita 30 tahunan, yang umurnya lebih muda dariku, orangnya ceria, ramah, dan sangat bersahabat. Hari-hari berikutnya kadang kami pulang bersama, ia mengantarku sampai ke hauptbahnhoff, sehingga aku hanya jalan kaki atau bersepeda sekitar 200 meter ke sekolah anakku menjemputnya dan membawanya pulang.

Pokok bahasan kami sudah lebih dalam di pertemuan-pertemuan kami selanjutnya, tentang keluarga, pacarnya, liburan-nya, dan weichnachten (perayaan natal). Topik terakhir agak alot, karena Annika tidak paham kenapa aku tidak merayakan natal, waktu itu menjelang bulan Desember.

“Tidak ada kaitan antara natal dengan agama, kamu tahu, sebagian besar orang di sini tidak beragama, dan mereka merayakan natal, ini hanya sebuah perayaan keluarga, ini hanya kultur, bukan agama”

“Tapi d negaraku, natal hanya dirayakan oleh orang Kristen”

“Di sini tidak begitu, kamu bisa merayakannya, ayolah”

“Aku nggak merayakan karena aku muslim”

“Hei, aku sudah bilang, ini gak ada kaitan dengan agama”

“Ya, terserah kami, tapi aku tidak merayakannya…apapun itu”

“Oke, baiklah…terserah kamu….anyway,“

Lalu aku menceritakan padanya bahwa aku merayakan seperti natal, dalam Islam disebut hari raya puasa dan hari raya haji, di waktu yang lain.

Anika mengangguk-angguk.

Aku dengan Annika, adalah hubungan bos dengan anak buahnya, tapi Annika memperlakukanku seperti kolega. Ia akan cepat-cepat menyuruhku pulang kalau jam sudah menunjukkan angka 3.

“Ayo, jangan terlambat, kmu harus jemput anakmu. Sisa perkerjaan bisa kamu kerjakan lagi minggu depan. Jangan kuatirkan alat-alat gelas yang belum tercuci, ada orang lain yang akan mengerjakannya.”

Akupun segera berkemas. Rata-rata aku kerja setiap rabu sekitar 5 jam, dari jam 8.30 -15.00, potong jam makan siang ya. Untuk urusan jam kerja ini, Annika sangat teliti, aku istirahat siang (makan dan salat) setengah jam, kalau lebih, ia akan mencatat lebh.

Dan jam kerjaku, benar-benar kerja, tidak ada waktu sama sekali untuk memegang hape, atau duduk di kursi. Aku sama sekali tidak sempat duduk, selama lima jam itu.  Menyiapkan alat, mencampur bahan, air, klorin, protein, analisa organoleptik dengan indera penciuman, yang dicatat oleh anika. Mencuci gelas-gelas, mensetilkan, mengelap lemari, cuci gelas lagi, membantu menghitung bakteri dengan koloni counter, dan banyak lagi. Nonstop lah. Sampai di rumah badanku sepeti patah-patah setiap sendinya. Aku tepar, lunglai.

Tapi aku puas sempat merasakan bekerja di luar negeri, dan tentunya lebih menghargainya pekerjaanku di negeriku. Tambahan lagi, sampai tahun-tahun berikutnya setelah aku pulang, aku masih terus kontak email dengan Annika, ia telah bekerja di wassererk di kota lain. Terakhir ia mengirim foto puteri mungilnya Mila, dengan pipi tembem seperti balon hendak meletus.

 

Akutulis ketika di Houston ini saat rindu Dresden.19.10.2018.

Verspaetung = delay, tunda

Facebook:https://www.facebook.com/pages/Wasserwerk-Cosch%C3%BCtz/377033402320896

 

 

 

 

5. Okt, 2018

BE ON TIME “This is not Indonesia”

 

Zahra Fona

Bukanlah hal asing bagi kita bahwa ketika berada di Negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa, dan beberapa negara Asia, mereka sangat strick terhadap waktu. Tidak ada toleransi keterlambatan dengan alasan apapun. Datang tidak pada waktunya adalah sebuah kesalahan besar, sebuah kebodohan, dan tak bisa dimaafkan. Jadi, untuk urusan ini, salah satunya mesti banyak belajar dari mereka. Be On time, maksudnya tepat waktu, dengan menghargainya setiap menitnya. Dalam tulisan ini aku ingin membahas dua bagian tentang ‘be on time’, meskipun konteks berbeda, tetapi keduanya memberi pelajaran berharga pada kehidupanku selanjutnya.

 

Part 1

Aku pernah trauma dengan ‘tidak tepat waktu’ ketika hari kedua tiba di Marburg tahun 2009.

Sesuai skedul, pagi pukul 09.05 kami akan dijemput untuk ke sebuah restauran di atas bukit di tengah kota Marburg. Semestinya kan saling mengingatkan atau dipanggil kan ya kalau sudah pada ngumpul di halte depan asrama kami tinggal. Tapi ternyata nggak. Mereka, para teman seperjuangan langsung berangkat jam segitu. Aku dan kak Essy keluar jam 9.05 tidak ada tanda-tanda ada orang satupun, apa mereka belum keluar ya, pikir kami. Setelah menunggu beberapa menit, kami memutuskan bahwa mereka memang sudah berangkat. Jadilah kami yang tidak tahu tempat ini kebingungan, mau menyusul pakai apa? Kami cuma punya modal peta dengan sebuah nama restauran yang hendak kami tuju. Seorang  pemuda Rusia, bernama Ramadhan, seorang muslim, yang juga tinggal seasrama dengan kami, menanyakan apa yang bias dibantu karena melihat kami sibuk melihat peta di halte. Ia sedang menunggu bus juga.

Setelah berkenalan dan ngobrol sesaat, kamipun minta tolong padanya untuk menunjukkan jalan ke sana. Oke, boleh katanya. Kami naik bis rute ke kota, lalu naik lift ke bagian atas menuju jalan yang lebih tinggi, tak jauh dari halte kami turun. Perjalanan ke atas itu ternyata sangat menanjak, beberapa toko yang menjual berbagai cenderamata berderet di sepanjang pinggiran jalan yang tak rata.  Rumah dan gedung tinggi klasik tanpa cat apapu juga berderet disisi satu lagi. Jalan bukan teraspal tetapi terdiri dari susunan blok-blok batu pipih. Semakin jauh kami berjalan, semakin menanjak. Napaskku seperti tinggal satu-satu. Ramadhan telah jauh meninggalkan kami, ia berjalan sangat cepat karena posturnya yang tinggi, ya langkahnya lebar-lebar. Aku dan kak essy tak sanggup lagi, engsel lututku rasanya hendak lepas, otot-ototku gemetar. Aku berhenti dan menunduk dengan menumpangkan kedua tangan pada lutut. Ramadhan kembali ke arah kami.

“Ayo Fon, kita lanjut, malu dong sama Ramdhan,” bisik kak Essy. Menjawab pun aku tak sanggup lagi.

“Apa perlu aku gendong?“ Ramadhan mengangkat kedua tangannya ke arahku seperti hendak menggendong bayi. Ia masih aja tersenyum, sementara keringatku jangan tanya, kayak orang baru muncul dari kolam renang.

Waduh malu dong, senyum tertahan, kupaksakan berjalan meskipun tubuh sudah gemetar. Cape dan haus. Setelah 15 menit berjalan tertatih berdua dengan kak Essy, sampailah kami di puncak bukit yang restaurannya luar biasa unik. Restaurant bernuansa klasik ala istana zaman dulu, di luarnya penuh dengan semak merambat, dan taman berisi bunga-bunga. Di sisi sebelah dalam terlihat tebing terjal dibatasi pagar setinggi bahuku. Pagar beton kokoh ini penuh dengan semak merambat sehingga terkesan seperti tak terurus. Di jurang itu pohon besar-besar tumbuh layaknya hutan di kita. Kami pun masuk ke dalam, acara ternyata sudah selesai, yaitu welcome party dari pihak Universitas Marburg khusus untuk peserta dari Excellent-Scholarship Aceh-DAAD. Tidak ada yang mempersilakan kami makan atau minum. Hanya teman kami sendiri yang menunjukkan kami untuk mengambil makanan dan minuman di meja sebelah luar, agak jauh dari tempat kami duduk. Dua orang tutor hanya say “hai” pada kami. Lalu ia mengatakan, “Schoene noch tag” sebelum meninggalkan restaurant. Ia harus kembali ke kampus lagi, jadi minta maaf gak bisa lebih lama. Kalau kami mau duduk dan ngobrol dipersilahkan saja.

Ternyata makanan yang tersisa hanya roti tawar, dan air putih. Sebuah pelajaran berharga tentang “how to deal with time”.

Jadi kalau katanya berangkat jam 9.05, harus kumpul di tempat yang ditentukan paling lambat jam 9.00, oke?? Atau kamu takkan mendapat apa-apa, roti tawar dan air putih itu pun udah mewah betul untuk orang yang terlambat, hehe.

“Eh, Ramadhan kemana ya?” kataku pada Kak Essy setelah rasa gemetar hilang. Kami tidak melihatnya lagi setelah masuk ke restaurant. Belum juga sempat bilang terima kasih, waduh..

 

Part 2.

Kejadian pagi ini, hari ke empat kami mengikuti training “Oil and Gas” di PETEX (Petroleum of Extention) di Houston, sebuah kota di Texas. Pukul 8 kurang 15 menit bus sudah berada di depan hotel kami tinggal. Biasanya bus datang pukul 8.10 atau bahkan pernah pukul 8.20, karena jadwal berangkat bus biasanya pukul 8.30. Pagi ini, setelah makan pagi, aku naik lagi ke lantai 3 ke kamarku untuk berberes dan dengan santai aku turun pukul 8.10. karena beberapa teman sudah menuju bus, aku pun mengikuti, meskipun beberapa yang lain masih sedang menghabiskan sarapannya di restauran hotel yang terletak di ruangan sisi kiri pintu masuk hotel. Sekitar 15 peserta sudah ada di sana ketika aku naik. Sang supir, kali ini aku gak tahu orang mana, berkuilt putih, paruh baya, rambut dan brewok tipisnya terlihat bercampur hitam dan putih menujukkan kertas berisi jadwal ia menjemput kami dan jam berapa dia harus berangkat.

“I should leave on 8.15” katanya. “Have you all in?”

“No, wait a minute, somebody is still missing” jawab salah satu dari kami.

“Oh no, you should be on time, you know, we should go now, 8.15 leave! You know, this is not Indonesia!” katanya dengan nada agak ditahan. Semua diam

“But sir, usually we move at 8.30”

“No, 8.15 we leave, look at here, “ bantahnya dengan menunjuk pada kertas yang dipegangnya

“So, it miscommunication, we move usually at 8.30.”

Si supir masih menggerutu.

Yang ditunggu belum muncul juga. Yuli menghampiri si supir lalu menunjukkan jadwa yang tertera pada kertas jadwal yang dibagi ke kami.

“Sir, we have this schedule, here we leave at 8.30”

Aku gak tahu apa tanggapan si supir, setelahnya ia hanya diam. Beberapa saat kemudian, pukul 8.28 satu orang terakhir pun menaiki bus dengan santai dan tidak tahu apa-apa.

Berarti mereka sangat trauma dengan Indonesia yang tidak on time, dan itu menjadi icon buruk yang sangat memalukan. Oke, bisa jadi si bapak salah melihat jadwal, atau diberikan jadwal yang salah, karena para supir sebelumnya tidak mempersoalkan hal ini. Oya, dari hari senin sampai rabu supir bus kami berbeda, hanya satu yang pernah dua hari bertugas yaitu seorang kulit hitam “Elton” yang sangat lucu dan ramah. Ia suka bercanda ketika tiba di persimpangan “Where we go now? Straight? Turn?” dan bila seharusnya belok, ia akan pura-pura lurus, sehingga kami teriak-teriak. Ada-ada aja si bapak ni. Kami pun mencandainya, “straight…straight…” atau bila seharusnya belok kanan, kami bilang “Turn left!” ia pun akan pura-pura belok kiri sampai kami teriaki…hal ini tentunya ketika bukan di jalan raya yang padat.

Tak terbantahkan bahwa, ada rasa sakit sangat dalam di hati ketika mengingat kata “This is not Indonesia.” Sakitnya tuh di siniiii!! Dalam dan jauhhh sekali. Ternyata ketika terhina, rasa nasionalisme muncul bergolak seperti air dipanasi mendidih 100oC, atau seperti gelombang Nord Sea ketika badai. Ingin rasanya meluruskan ke si bapak: ini bukan salah kami, bapak aja yang salah lihat atau bawa jadwal yang salah. Tapi, hal itu pasti akan memperpanjang masalah. Dan kita baru seminggu di sini, masih ada 9 minggu lagi, dan terus akan memerlukan bus untuk ke PETEX, bias jadi si bapak ini akan menjadi supirnya atau yang lain.

Mencoba berpositif thinking: ternyata masih saja Indonesian people dicap sebagai manusia yang buruk penghargaannya terhadap waktu, so kenapa kita tidak merubahnya? Jangan biarkan si pak supir terus berpikiran seperti itu. Datanglah selalu tepat waktu, dan buktikan kalau ‘icon tidak tepat waktu’ itu hanya masa lalu orang Indonesia, let’s do it!

 

Houston. 05.10.2018.sakitnya.belum.sembuh;(.