Cerita

DIE SCHUHE: PUTZEN!

Fonna Zahra

Matahari musim semi bersinar lembut dari cakrawala, berkolaborasi dengan sisa musim dingin panjang di awal tahun. Saya sedang menunggu tram di Pragerstrasse di suatu siang hendak pulang dari belanja. Di waktu luang, saya senang windowshopping layaknya perempuan kebanyakan. Seseorang mendekati saya, bapak tua dengan syal rajut abu-abu meliliti lehernya. Tangan kanannya menengadah ke saya, tangan kiri memegang tongkat. Dengan isyarat, saya melambaikan tangan kanan ke arah nya.  Dia masih terus mendekati saya, karena risih saya menjauh beberapa langkah, ee dia terus mendekat dan menunjuk ke sepatu saya. Sepatu merah-krem, yang kremnya sudah bermetamorfosa antara cokelat dengan hitam. Sepatu favorit yang selalu saya pakai kecuali di musim dingin. Sepatu yang ketika membelinya penuh perjuangan dan ending lucu.

Waktu itu saya dan Kezia ke toko sepatu, melanjutkan penasaran kemrin yang tidak menemukan ‘buruan’ku. Bukan gampang mencari sepatu yang cocok untuk kaki mungilku di negeri benua biru yang rerata ukuran kaki dewasa di atas 38 ini. Setelah lebih sejam berkeliling toko ke sekian, saya belum menemukan sepatu yang cocok. Dibantu Kezia, saya meneliti setiap pasang sepatu yang bersusun rapi di rak, yang jumlahnya tak kurang 200-an. Diantara semuanya saya menemukan satu yang simpel, sepatu kets warna campuran merah-krem dengan tali pengikat di atasnya layaknya sepatu sekolah biasa, tapi sungguh memikat saya. Sepatu itu pun berjodoh dengan saya pada akhirnya, tentu saja setelah melewati banyak ‘timang-timang’. Kezia menghembus nafas lega, perjuangan sepatu usai hari ini setelah huntingdua hari.

Tiba di rumah, kami tentu saja memeriksa kembali sepatu itu, dan mengomentari sana sini, memakainya, berjalan sana-sini di ruangan, lalu mengintip-ngintip ke dalam sepatu, menelisik setiap incinya eee tenyata ada tulisan di bagian dalam sepatu, tepat di sisi kirinya: Made in Indonesia.

Saya dan Kezia ngakak bersamaan sampe guling-guling. Walah...jauh-jauh pergi, cintanya produk Indonesia juga. Tapi, di sisi lain, membuktikan bahwa, ternyata rasa nasionalisme semakin terlihat ketika jauh dari negeri sendiri.

Kembali ke bapak tua tadi, setelah terus mendekati saya, dan saya merasa agak takut, meski dalam hati “ngapain takut, banyak orang kok di sini.” Saya berusaha bergeser, sebisa mungkin bersikap wajar,  dengan mengalihkan pandangan ke tempat lain

Setelah betul-betul dekat ke sisi saya, si Bapak menunjuk sepatu ‘merah-krem’ saya: “Die Schuhe, putzen!” katanya dingin. Lalu menjauh dari saya dengan tongkatnya tertatih-tatih. Tinggallah saya melongo, memandangi langkah pelannya. Saya hendak tertawa atau menangis, tidak tahu. Tertawa menertawakan kebodohan saya, menangis terharu dengan sikap si bapak. Entahlah, yang pasti, setelah 7 tahun berlalu, kisah ini masih melekat di pikiran dan hati saya: jangan malas bersihkan sepatu ya!

 

Lhokseumawe, 1Feb2018.

Die Schuhe, putzen = sepatunya dibersihkan ya!